Tari Bali
Tari Bali
Kali ini saya akan membahas tentang tarian budaya indonesia yaitu tarian dari Pulau Dewata Bali, baik kita langsung saja jenis-jenis tari bali, yaitu:
1. Tari Barong
Jika pada budaya Cina kita sering melihat pertunjukan aksi Barongsai, maka daerah Bali juga memiliki tari serupa yang bernama tari Barong. Tarian ini diperkirakan telah ada sebelum munculnya agama Hindu di Nusantara sehingga merupakan tari sakral yang hanya dipentaskan pada upacara ritual tertentu. Kata Barong berasal dari kata “bahruang” yang berarti juga beruang.
Tari Barong dimainkan oleh 2 (dua) orang laki-laki yang bertindak sebagai bagian kepala dan bagian badan barong sehingga kelihatanya seperti binatang berkaki empat. Ada beragam tari barong dengan fungsi dan tradisi yang berbeda, diantaranya tari barong macan, barong bangkal, barong gajah, barong asu, barong landung, barong blasblasan, barong ket (keket). Tari Barong yang sering ditampilkan pada saat ini adalah tari barong ket. jenis tari barong ini memiliki kostum dan gerak tari yang lengkap, bentuknya merupakan perpaduan antara binatang singa, macan, sapi atau boma.
2. Tari Kecak
Tari Kecak adalah tarian tradisional bali yang memadukan seni tari dan kisah drama, terutama kisah lakon Ramayana. Hampir semua pemain utamanya adalah laki-laki, kecuali Dewi Sita dan beberapa pengiring perempuannya. Tari Kecak ini sendiri diciptakan dan dipopulerkan oleh Wayan Limbak bersama dengan seorang pelukis Jerman Walter Spies pada tahun 1930 an.
Dalam pertunjukkan tarian ini memakai banyak penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan kata “cak” dan mengangkat kedua lengan, selain itu ada pula para penari utama yang menjadi lakon yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Penggalan epos yang dilakonkan dalam tari kecak adalah kisah Ramayana saat barisan kera dan Anoman membantu Rama melawan Rahwana. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain poleng (motih kotak-kotak putih hitam seperti papan catur) melingkari pinggang mereka.
3. Tari Cendrawasih Bali
I Gde Manik adalah orang yang menciptakan tari cendrawasih dan pertama kali ditampilkan di subdistrik atau kecamatan Sawan di Kabupaten Buleleng pada 1920an. Tapi tari Cendrawasih yang sering dipertunjukan pada masa kini adalah hasil olahan koreografi oleh N. L. N. Swasthi Wijaya Bandem, yang diaransemenkan pada penampilan pertamanya di tahun 1988.
Tari Cendrawasih Bali menggambarkan keindahan burung Cendrawasih. Burung yang merupakan ikon tanah Papua tersebut dalam masyarakat Bali dikenal sebagai Manuk Dewata. Tari Cendrawasih pentaskan oleh 2 orang wanita yang berperan sebagai burung cendrawasih jantan dan cendrawasih betina. Gerak kedua burung ini ibarat sepasang burung yang memadu kasih. Mereka meliuk-liuk seperti sedang menari dan juga menyanyi ketika menjelang perkawinan.
4. Tari Kebyar Duduk Bali
Tari kebyar duduk diciptakan oleh seorang maestro seni asal kabupaten Tabanan pada tahun 1925 bernama I Ketut Mario. Tari kebyar duduk juga biasa disebut dengan tari Kebyar Terompong (jika dimainkan memakai instrument Terompong). Tari ini dinamakan Kebyar Duduk karena sebagian besar gerak-gerakan tarinya dilakukan dalam posisi duduk dengan kedua kaki menyilang (bersila). Bagian dari gerak tari yang dilakukan dengan posisi sulit, yaitu setengah jongkok, dan terlihat unik ketika penari dapat bergerak melangkah atau berpindah tempat dengan cepat.
Sama seperti tarian Baris, tari Kebyar Duduk merupakan tarian tunggal. Jika tari Baris mengilustrasikan gerakan-gerakan ksatria (prajurit) Bali pada umumnya. Dalam tarian Kebyar penekannya adalah pada penari itu sendiri yang menginsterpretasikan nuansa musik dengan ekpresi wajah dan gerakan. Penciptaan tarian ini terdiri atas empat bagian, yaitu papeson, kebyar, pangandeng, dan pangecet. Tari Kebyar Duduk menggambarkan seorang pemuda yang menari dengan lincah mengikuti irama gamelan.
5. Tari Topeng Bali
Tari topeng adalah salah satu tari tradisional bali yang sakral bagi masyarakat bali. Jika kita berbicara tentang budaya tanah air, maka Indonesia memiliki beberapa tari topeng, antara lain topeng Cirebon dari Jawa Barat, Topeng Malang, Topeng Reog, Topeng Ireng dan lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa topeng telah ada di dunia sejak jaman prasejarah. Aksesoris yang digunakan pada wajah ini juga dimanfaatkan dalam pertunjukan seni drama dan seni tari.
Pada masyarakat hindu bali Keberadaan topeng berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Topeng Bali adalah sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.
6. Tari Puspanjali
Tari Puspanjali merupakan tari penyambutan untuk para tamu kehormatan. Tari ini dipentaskan oleh penari putri dengan jumlah penari antara 5-7 orang dengan membawa bokoran (piring tradisional) yang berisi aneka kuntum bunga harum. Tari Puspanjalai menampilkan gerak-gerak lembut lemah gemulai yang dipadukan dengan gerak-gerak ritmis yang dinamis.
Puspanjali berasal dari kata puspa (bunga) dan anjali (sambutan penghormatan). Tarian ini banyak mengambil inspirasi dari gerakan tarian Rejang, dan menggambarkan sejumlah gadis yang dengan penuh rasa hormat menyongsong kedatangan para tamu yang datang ke pulau mereka. Tari ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya (penata tari) dan I Nyoman Windha (penata tabuh pengiring) pada tahun 1989.
7. Tari Baris
Tari Baris merupakan tari perang yang menggambarkan keperkasaan prajurit atau ksatria. Tari Baris biasanya dipentaskan oleh 8 sampai 40 pria yang memakai pakaian tradisional para pejuang lengkap dengan ornamen pada kepala, badog, lamak, awir, baju beludru, celana panjang.
Tari Baris merupakan tari sakral yang biasanya dipertunjukkan pada moment-moment khusus di area pura. Dalam peragaan tarinya, tari Baris diawali oleh gerakan yang hati-hati layaknya seorang prajurit yang sedang mencari musuhnya di daerah yang belum dikenal. Ketika sampai di tengah panggung, para penari mulai berjinjit, bergerak lebih cepat dan dengan gesit berputar di atas satu kaki. Masyarakat setempat percaya bahwa pementasan tari Baris di perayaan tertentu memiliki kekuatan magis para dewa dewi dan leluhur turun ke dunia untuk memberi berkat. Jadi tarian ini dipersembahkan untuk mereka sebagai pertunjukan dan juga rasa syukur.
8. Tari Janger Bali
Tari janger muncul di era tahun 1930an, tarian ini muncul dilatar belakangi oleh nyanyian bersahut-sahutan dari orang-orang yang memetik kopi. Nyanyian sahut-sahutan tersebut bertujuan untuk menghapuskan rasa lelah saat kegiatan memanen biji kopi. Nyanyian sederhana inilah yang kemudian berkembang dan menjadi inspirasi terciptanya Tari janger.
Tari Janger dimainkan secara berpasangan dengan jumlah penari 10 hingga 16 orang, kemudian dibagi dalam kelompok putri yang dinamakan janger dan kelompok putra yang dinamakan kecak. Mereka menari sambil menyanyikan Lagu Janger secara bersahut-sahutan. Lirik lagu Janger diadopsi dari nyanyian Sanghyang, sebuah tarian ritual kuno.
9. Tari Tenun Bali
Tari tenun diciptakan oleh I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes pada tahun 1962. Tari tenun juga berfungsi untuk melestarikan kebudayaan tenun-menenun yang ada di Bali dan juga melestarikan alat-alat tradisional yang dipergunakan dalam menenun. Kisah penggambaran tari tenun dimulai dari proses memintal benang sampai pada menenun dengan perasaan senang dan gembira. Tarian ini pada umumnya dibawakan oleh tiga orang penari atau lebih.
Busana Tari Tenun terdiri dari: kepala memakai lelunakan; pakaiannya terdiri dari tapih, kamen, dan selendang yang di lilitkan di dada serta sabuk prada; tata rias hampir sama dengan tarian lain; bunga sandat 3 buah di kenakan di kepala.
10. Tari Gambuh Bali
Tari Gambuh adalah sebuah drama tari warisan budaya Bali, yang memperoleh pengaruh dan drama tari zaman Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang dikenal dengan nama Rakêt Lalaokaran. Rakêt Lalaokaran yang juga disebut Gambuh Ariar adalah pertunjukan berlakon yang merupakan perpaduan antara Rakêt dengan Gambuh. Gambuh abad XVI ini adalah tarian perang yang merupakan kelanjutan dan Bhata Mapdtra Yuddha, yaitu tarian perang untuk menghibur rakyat Majapahit yang melaksana upacara Shreiddha.
Drama tari klasik yang lahir di Puri pada masa lampau, masih dilestarikan diberbagai daerah di Bali, yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan. Rakêt telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, dan baru disebutkan lagi dalam Kidung Warjban Wideya dari abad XVI. Kemudian tari ini berkembang dan lestari di Bali serta memberi pengaruh kesenian masyarakat Bali. Salah satu drama tari yang mendapat pengaruh dari Gambuh adalah drama tari opera arja. Arja adalah dramatari opera yang menggunakan tembang dan dialog sebagai media ungkap lakon yang ditampilkan.
11. Tari Telek Bali
Tari Telek sampai saat ini masih sering dipentaskan secara teratur oleh sejumlah banjar atau desa adat di Bumi Serombotan, Klungkung. Jenis tari wali ini merupakan warisan leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan. Keyakinan ini begitu mengkristal dihati krama Banjar adat Pancoran. Gelgel dan juga Desa Adat Jumpai, Mereka melestarikan kesenian ini dari tahun ke tahun. dari generasi ke generasi sampai tidak tergerus arus zaman. Begitu kuatnya mereka menjaga kesenian ini. sampai-sampai seluruh pakem pada pementasan Tari Telek dipertahankan secara saklek.
Warga setempat meyakini bahwa pementasan Telek ini sebagai sarana untuk meminang keselamatan dunia, khususnya di wilayah banjar atau desa adat mereka. Jika nekat tidak mementaskan tarian ini. Sama artinya dengan mengundang kehadiran sasab (penyakit pada manusia), merana (hama-penyakit pada tanaman dan ternak). Dan marabahaya lainnya yang mengacaukan harmonisasi di dunia.
12. Tari Wiranata
Tari Wranata ini mengambarkan kesan gagah dari seorang penad serta cocok sekali dalam melukiskan seseorang yang punya pengaruh dan wibawa seperti seorang raja. Dalam pertunjukannya, Tari Wranata pada umumnya akan ditarikan oleh remaja putri. Namun memungkinkan juga ditarikan oleh penari putra, baik itu dalam pementasan berkelompok (massal) maupun seorang diri (tunggal). Tarian ini merupakan tari kreasi yang diciptakan oleh Inyoman Ridet pada tahun 1960.
13. Tari Panyembrama
Tari Panyembrama adalah jenis tari penyambutan, tari ini juga sering dipentaskan dalam upacara agama hindu di pura sebagai tari pelengkap persembahan sebelum tari Sanghyang atau Rejang. Gamelan yang digunakan dalam tarian ini adalah gong kebyar dan dalam pentas menggunakan pakaian adat Bali. Tari Panyembrama dipentaskan oleh sejumlah penari perempuan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga lirik mata, senyum, dan gerak gemulai tubuhnya terlihat anggun mempesona. Tarian ini diciptakan oleh I Wayan Berata pada tahun 1970 an.
14. Tari Sanghyang Bali
Salah satu tari sakral umat Hindu di pulau Bali adalah tari Sanghyang. Tari yang merupakan sisa-sisa kebudayaan pra-Hindu ini biasanya ditarikan oleh dua gadis yang masih kecil (belum dewasa) dan dianggap masih suci. Sebelum dapat menarikan sanghyang calon penarinya harus menjalankan beberapa pantangan, seperti: tidak boleh lewat di bawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh mencuri.
Tarian ini sendiri sering dipentaskan untuk fungsi sebagai pelengkap upacara atau juga sebagai media untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa atau daerah. Selain untuk mengusir wabah penyakit, tarian ini juga digunakan sebagai sarana pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magi hitam (black magic). Tari Sanghyang ada beberapa jenis, diantaranya Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Celeng.
15. Tari Kupu-Kupu Bali
Menurut catatan sejarah tarian Bali, tari kupu-kupu ini diciptakan oleh I Wayan Beratha ditahun 1960-an. Tarian kupu-kupu merupakan jenis tarian grup putri yang dimainkan oleh 5 (lima) orang perempuan atau lebih.
Tarian ini menggambarkan binatang kupu-kupu berwama biru tua atau tarum yang sedang terbang serta hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya. Secara filosofis. tarian kupu-kupu ini adatah penggambaran keindahan. kedamaian. dan juga eksotoknya pulau Bafi.
16. Tari Baris Tunggal
Menurut informasi yang terdapat di Kidung Sunda, tarian ini diperkirakan sudah ada sejak pertengahan abad ke-16. Dinaskah tersebut terdapat sebuah keterangan tentang adanya tujuh jenis tari baris yang dibawakan di dalam upacara kremasi di Jawa. selain itu, terdapat juga sebuah keterangan bahwa pada awal kemunculannya tari baris Tunggal ini merupakan bagian dari ritual keagamaan pada saat itu.

















Komentar
Posting Komentar